Tuesday, 6 November 2012

Resensi Novel : KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat


Pertama kali membaca Novel ini, jujur kesan pertama adalah sangat brilian. Bagaimana bisa topik pembahasan yang berat seperti “Liberalisme” bisa diramu dalam cerita yang mengalir dengan pembahasan yang memahamkan pembaca tentang “apa itu Liberalisme ?”dalam setiap percakapannya. Novel ini secara lugas menyatakan tentang perang pemikiran yang selama ini menyerang umat Muslim di dunia, khususnya di Negara kita Republik Indonesia.

Pembahasan tentang arus pemikiran ini kalaupun toh dibahas dalam diskusi-diskusi atau artikel-artikel ilmiah pasti pendengar atau pembaca yang masih awam masih bingung, apa itu liberal ?, apa itu sekularisme ?, apa itu feminisme ?, dan lain sebagainya.  Dalam Novel KEMI ini telah disusun secara gamblang, dengan cerita persahabatan, cinta, dan kesetiaan, Dr. Adian Husaini telah menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa “perang pemikiran” memang sedang terjadi di negara kita.

Peperangan ini sangat tersembunyi, hingga kita semua tidak sadar bahwa setiap saat kita bisa menghadapinya ataupun menjadi korbannya. Untuk itulah novel ini serasa mengajari kita agar memahami jalan pikiran yang salah, dan juga bagaimana seharusnya kita bisa memetakan pemahaman yang baik sesuai dengan syariat Islam yang bersumber dari Hadits Rasulullah SAW dan Al-Quran.


Novel KEMI menggambarkan bahwa membela agama Islam tidak hanya dengan melakukan peperangan fisik, melainkan juga bisa lewat karya sastra. Dalam prolognya (hal. 7), Dr. Adian Husaini menjabarkan secara ringkas tentang bahaya liberalisme. Dari MUI yang dicaci maki, umat muslim Indonesia yang menjadi target sasarannya, kebebasan pemikiran agama itu semua sama, serta ajakan liberalisme untuk bebas dari kungkungan ajaran agama.

Novel “KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat” dimulai dengan dua sosok sahabat di sebuah pesantren, Kemi dan Rahmat. Kedua sahabat ini saling berprestasi dan menjadi santri teladan di pesantren Minhajul Abidin punya Kyai Aminudin Rois. Tetapi persahabatan itu berubah ketika Kemi ingin meninggalkan pesantren.

Kemi terbujuk dengan dengan pengaruh kakak kelasnya yang lebih dulu meninggalkan pesantren, Farsan. Farsan menjanjikan kehidupan yang sejahtera dengan beasiswa kuliah di Universitas Damai Sentosa. Ternyata Farsan mempunyai niat buruk, yaitu menjadikan Kemi sebagai salah satu pasukan yang akan menentang keyakinan agamanya sendiri.

Rahmat sahabat karib kemi di pesantren tidak mau tinggal diam mendengar perubahan drastis yang terjadi kepada Kemi. Akhirnya rahmat pun memperdalam ilmunya kepada Kyai Fahim Rupawan (hal. 108) yang terkenal mumpuni dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam. Setelah dirasa cukup dan mampu, akhirnya Rahmat dikirim ke Jakarta untuk menyadarkan Kemi kembali.

Di kampus Damai Sentosa, Rahmat menemui kehidupan baru. Pemikiran yang bebas sudah sangat sebebas-bebasnya membaur dan merasuk ke setiap mahasiswa di kampus itu. Tetapi Rahmat tetap kepada pendiriannya, menjaga imannya dari setiap keyakinan yang tidak sesuai dengan Syariat agama Islam. Bahkan pada suatu saat, Rahmat mampu menaklukkan Rektor Universitas tersebut, Profesor Malikan (hal. 139).

Pergulatan Rahmat dalam membela pemikiran yang benar sesuai dengan syariat terus berlanjut, sampai akhirnya semua tahu mana yang salah dan mana yang benar. Memang jika kita membaca lembar demi lembar isi novel ini serasa berbeda dengan kebanyakan novel lainnya. Novel KEMI menyajikan pemahaman tentang pemikiran yang sedang berkembang dan menyebar luas di Negara kita. Pemahaman yang dibalut dengan dialog dan contoh yang masuk akal akan memahamkan orang awam.

Novel Kemi ini sangat bermanfaat, karena telah mengajarkan kita semua bahwa; Umat Islam saat ini telah dijajah oleh musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dari umatnya sendiri. Merubah cara berpikir umat Islam dan memprovokasi agar saling menyerang dan melemahkan sesama muslim. Menjadikan pemikiran dan pemahaman umat Islam dangkal dan jauh akan ajaran agamanya sendiri.

Untuk itu, pelajaran yang amat sangat berharga yang bisa diambil dari novel ini adalah; Kita semua sebagai umat Islam harus bersatu saling menguatkan aqidah kita sesuai dengan syariat islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.

Jangan mudah terbawa arus pemikiran yang salah, serta silau oleh harta dunia yang melimpah dengan menggadaikan keimanan kita, karena hidup bahagia seorang muslim bukan hanya diukur dengan banyaknya harta, melainkan juga kaya akan iman dan amal sholih yang menjadi jalan menuju kebahagiaan hakiki muslim, yaitu hidup tenang berdampingan dengan kekasih Allah SWT di akhirat kelak. Amiin.

Judul: Kemi, Cinta Kebebasan yang Tersesat
Penulis: Adian Husaini
Penerbit: Gema Insani Press
Cetak: Pertama, April 2010
Tebal: 316 hlm

Semoga bermanfaat :)

20 comments:

  1. iya sangat sepakat dengan kalimat paragraf akhir, ...selain itu agar tidak mudah terbawa pemikiran sesat, pelajari dengan baik syariat agama, mendalami dan menjalankannya....tidak hanya dengan BER-ISLAM tapi cuma di KTP.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita harus belajar tentang agama kita lebih mendalam lagi pak biar tidak ikut2an atau terbawa masa.. :)

      Salam (C)

      Delete
  2. novel ini sudah terjadi di tanah air ya sob, kok bisa ya anak pesantren yang notabane pemahaman keilmuan agamanya sudah tidak diragukan itu masih bisa terpengaruh dengan aliran-aliran sesat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua bisa terjadi pak.. jangankan pesantren, orang hebat yg udah bergelar prof aja masih bisa.. intinya kita harus lebih giat lagi memahami agama kita sesuai yang telah dicontohkan dalam Al-Qur'an & hadits.. :)

      Salam hangat dari Jombang (C)

      Delete
  3. Sebuah bacaan yang sangat bagus sebagai referensi kita dalam 'melihat' dunia saat ini. Apa yang perlu kita lakukan setelah membaca dan memahami novel ini ? Dapatkah kita 'sedikit' berperan untuk ikut mengubah dunia ? Berbahagialah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat bermanfaat pak.. apalagi sekarang sudah terbit Novel KEMI 2 :)
      Tentu yg bisa kita lakukan setelah membaca Novelini kita lebih bisa menata alur pemikiran kita ttg menghadapi suatu masalah seperti ini & juga menambah ilmu pengetahuan kita. Kita bisa berperan pak.. dimulai dari membimbing diri kita sendiri kemudian keluarga, teman, & masyarakat disekitar kita..

      Semoga bermanfaat (C)

      Delete
  4. keberagamaan kita hari ini memang ujiannya lebih berat. apalagi dengan semakin bebabasnya tayangan ditelevisi yang sedikit banyak juga memberikan dampak negatif terhadap masyarakat. Saya bisa beli novel itu di mana mas? Salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas.. sekarang kita harus extra mendidik & mengcover keluarga, teman, & masyarakat kita dari hal yg tidak diinginkan.. dimulai dari diri kita sendiri tentunya :)

      Anda bisa beli Novel KEMI di toko buku terdekat / gramedia :)
      Salam (c)

      Delete
  5. Membaca resensi yang Mas Fajar tulis, saya langsung menyimpulkan bahwa penulis ini cerdas. Wah, saya jadi ingin membacanya langsung neh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pak Muhaimin Azzet.. novelnya memang bagus pak, beda dari yg lainnya :)

      Delete
  6. wah pak ust Azzet nih tertarik banget kayaknya mas bro fajar gimana isidnya mas broo teman teman ane masih disana ndak kayak Dzulfikar akbar romadhon panggilannya mamo satria hibatal azizi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah tambah rame mas opick.. :)

      Mamo sekarang ikut program PKU (Pendidikan Kader Ulama) mewakili Muhammadiyah Sidoarjo kalau Satria jadi staff rektorat.

      Delete
  7. sukses selalu untuk novelnya...semoga laris manis ...ditunggu kunjungan balikny :D

    ReplyDelete
  8. Saya turut mendukung aja lah... Blog walking mas.

    ReplyDelete
  9. jadi tertarik mau ikut baca novel nya, recommended juga nih

    ReplyDelete